24 Jul 2011

Branding Di Object "Tabu" ?... Kenapa Tidak ?

Dalam perjalanan dinas ke Bali beberapa minggu lalu seperti biasanya saya memilih hotel yang dekat dengan Pantai Kuta agar saya dapat menyempatkan diri lari pagi di sepanjang Pantai Kuta sambil menikmati deburan ombak di pagi hari. Memang perlu effort khusus untuk menjalankan satu olahragaku ini. Karena di Bali waktu yang berlaku adalah WITA atau Waktu Indonesia Tengah yang artinya ada perbedaan waktu satu jam lebih cepat dari Jakarta sehingga saya harus bangun pukul 4.15 WIB, agar saya tidak terlambat melakukan aktivitas kantor yang dimulai pada pukul 07.30 WITA.

Pagi itu setelah saya lari melintasi garis pantai dan berjalan kembali ke Hotel menyusuri pedistrian pantai, dari kejauhan mata saya terpaku kepada deretan  kotak berwarna merah yang berjejer sepanjang pedistrian pantai, saya memastikan bahwa kotak tersebut adalah tempat sampah. Saya dekati untuk melihat lebih jelas tulisan yang ada di samping kanan kirinya dan saya terkejut, ternyata kotak sampah tersebut di sponsori oleh Coca-Cola.

Saya jadi teringat hampir 14 tahun yang lalu saat saya bergabung dengan Coca-Cola Amatil sebagai Outdoor Signages Manager, pada saat itu saya bertanggung jawab atas branding Coca-Cola di tempat - tempat yang strategis dan patut ditempatkan branding. Project penempatan Signages di Kantin Sekolah, Provision Store, Tenda-tenda tempat makan pinggir jalan seperti di Pecenongan dan Blok M, Events PRJ sampai Restaurant dan Cafe tidak luput dari terjangan Branding Team saya pada saat itu. Misi Team kami jelas Branding Coca-Cola harus ada dimana - mana dan dominan, dan Team kami harus meningkatkan dan mempertahankan Brand Equity Coca-Cola yang sudah terbentuk.

Karena product Coca-Cola adalah product konsumsi minuman sama halnya dengan product makanan, maka pada saat itu ada brief dari management yang jelas disampaikan bahwa team kami harus menghindari branding di tempat-tempat atau Object "Tabu Bagi Branding" seperti di dalam dan dekat toilet,tempat kumuh dan pembuangan sampah.  Tujuannya adalah agar Brand Coca-Cola di tempatkan di tempat yang memang benar ada hubunganya dengan Makanan & Minuman, dan menjaga Images higenis dari produk.

Pesan penempatan branding bukan di tempat atau Object "Tabu" juga saya dapatkan sewaktu saya bergabung di Team Promosi Marlboro, Philip Morris Asia Inc.  Pesan saat itu yang disampaikan oleh Bp. Edi Tjahyono, Promotion Manager yang saat ini menjabat sebagai Marketing Director Suzuki Indomobil juga hampir sama yaitu, jangan Branding di lingkungan toilet dan tempat pembuangan sampah,  karena akan menanamkan Images jorok terhadap product kita.

Dengan berjalannya waktu dan tingkat persaingan yang tinggi antar perusahaan yang memproduksi barang sejenis. Maka Marketer di tuntut untuk melakukan terobosan kreatif untuk mempertahankan dan memenangkan Branding.  Seperti yang Saya lihat saat itu di pantai Coca-Cola menyediakan tempat sampah, Rambu yang mengingatkan Kebersihan, lengkap dengan Traktor pembersih pantai dan Bak gandengan pengangkut sampah.

Dengan peralatan dan perlengkapan kebersihan ber "Stempel" Coca-Cola ini,  pendukung kebersihan yang wara-wiri dan terjejer rapih pada pagi hingga sore hari menjaga kebersihan di pantai, maka dengan Elegance Coca-Cola menancapkan Branding nya untuk memperkuat "Brand Equity" di Pantai Kuta, yang merupakan salah satu Pantai terkenal di jagat raya ini. Seperti yang terlihat di foto di  bawah ini. (Sumber Foto: Pribadi)


Tempat Sampah
Dengan Branding Coca-Cola
Terlihat Tempat Sampah Berjejer Sepanjang Pantai
Tempat Sampah & Rambu Kebersihan
Rambu Petunjuk Tempat Sampah
Tractor & Bak Pengankut Sampah
Bak Pengangkut Sampah
Apa yang dilakukan oleh Coca-Cola saat ini di Pantai Kuta  mampu merubah paradigma branding yang ada.. Branding yang biasa terlihat di "Object" seperti Parasol Pantai, Kursi, Pelampung, Penyelamat, Ice Box, Visi Cooler, Billboard dan Benda lainnya, kini Coca-Cola mampu mengemas secara serius object peralatan perlengkapan kebersihan menjadi Branding yang powerful yang turut memelihara kebersihan dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Keren terlihat dari jauh, traktor warna merah menyala dengan logo Coca-Cola terlihat sibuk membersihkan pantai, kesan powerful dan exclusive dapat dilihat oleh konsumen.

Coba bandingkan dengan gambar di bawah ini, dimana salah satu Bank National ikut menyediakan hanya kotak sampah dengan jumlah yang sedikit, tidak ada kata-kata kampanye kebersihan di sekeliling kotak sampah, hanya tertulis nama Bank dan logonya, Sehingga kesan kehadiran suatu Brand yang powerful tidak dirasakan. (Sumber Foto : Pribadi)


Tempat Sampah Dari Suatu Bank
Bersanding Dengan Tempat Sampah Coca-Cola  

Salah satu case dari studi mengenai Branding ini dapat kita pelajari dari Strategy Branding Johnnie Walker yang ikut mensponsori team Formula 1 Mc.Laren.
mungkin ada orang awam yang berkomentar apa hubungannya balap mobil dengan minum Whiskey? Yang notabene adalah minum alcohol... Balapan F-1 lagi? Hehehe.... Nggak waras aja abis minum Whiskey terus kebut - kebutan.... Hehehe...

Terobosan Idea ini dapat tercipta oleh Marketer yang mampu dapat menggali nilai dan mengemas dua hal yang tidak mungkin bersinergi yaitu Alcohol dan Balapan, menjadi suatu kekuatan Brand Category Alcohol yang berdiri paling depan untuk mengingatkan pentingnya Kearifan Minum Alcohol & Keselamatan Dalam Mengemudi.

Dengan tagline Keep Walking... Branding Johnnie Walker tampil dengan Elegance menghiasi Mobil F-1, Helm dan Uniform Team Mc.Laren yang setiap dua minggu di siarkan pertandingannya secara langsung  di seluruh penjuru dunia yang disiarkan oleh televisi dan disaksikan oleh jutaan pemirsa di seluruh dunia, Seperti terlihat di dalam gambar di bawah ini. (Sumber Foto / Gambar Google & Pribadi).


Branding Di Mobil F-1
Branding Di Helm
Poster Kampanye
Jangan Minum Whiskey Sambil
Mengendarai Kendaraan
Poster Kampanye Dari Johnnie Walker

Branding Di Baju Balap

Bandingkan dengan minuman alcohol lain yaitu Beer Fosters, tampak terlihat branding pada beberapa musim lalu menghiasi sekeliling arena balapan tanpa terlihat adanya kampanye suatu pesan yang inline antara alcohol dan balap. Images yang ditampilkan oleh produk Beer tersebut hanya kemegahan balap dan kesexian dari Promotion Girl yang lalu lalang di arena balap.(Sumber Foto / Gambar : Google)


Branding Di Arena Balap
Branding Di Uniform SPG
Dari kedua study case Branding diatas yaitu Coca-Cola dan Johnnie Walker, dapat kita pelajari bahwa dengan semakin tingginya tingkat persaingan, dimana tempat-tempat branding terbaik diperebutkan dan hanya tertinggal tempat yang tidak cocok untuk Branding bagi suatu product.  Maka marketer dituntut untuk dapat menciptakan terobosan creative  yang mampu merubah suatu tempat yang "Tabu" untuk branding menjadi suatu tempat Branding yang Elegance, effective di mata public dan dirasakan manfaat kehadirannya.

Seperti yang disediakan Oleh Coca-Cola seperti Tempat Sampah, Rambu-Rambu Pengingat Kebersihan, Bak Sampah,Traktor pembersih. Peralatan dan perlengkapan ini "menghias" dengan warna merah nya dan logo di sepanjang pantai dan dirasakan manfaat kehadirannya oleh masyarakat.

Johnnie Walker dengan tagline dan campaign mengingatkan kepada masyarakat arti pentingnya  Kearifan Dalam Minum Acohol & Keselamatan Dalam Mengemudi yang menghiasi branding seputar balap F-1, media cetak dan electronic.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar